Rabu, 08 Juni 2016

STRATEGI MEMBANTU KLIEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

I.                   STRATEGI MEMBANTU KLIEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A.      Strategi Membatu Klien dalam Pengambilan Keputusan
Dalam konseling pengambilan keputusan mutlak ada ditangan klien, sedangkan bidan membantu agar keputusan yang diambil klien tersebt tepat.
Ada empat strategi yang dapat membantu klien mengambil keputusannya.
1.      Membantu klien meninjau kemungkinan pilihannya. Beri kesempatan klien  untuk melihat lagi beberapa alternative pilihannya, agar tidak menyesal atau kecewa terhadap pihannya.
2.      Membantu klien dalam mempertimbangkan keputusan pilihan, dengan melihat kembali keuntungan atau konsekuensi positif dan kerugiannya atau konsekuensi negative.
3.      Membantu klien mengevaluasi pilihan. Setelah klien menetapkan pilihan, bantu klien untuk mencermati pilihannya.
4.      Membantu klien menyusun rencana kerja, untuk menyelesaikan masalahnya.
Langkah-langkah dalam membuat keputusan yang baik antara lain 3 K :
1.      Langkah pertama
Identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien.
2.      Langkah kedua
Susunlah daftar kehendak atau pilihan keputusan.
3.      Langkah ketiga
Untuk setiap pilihan, buatlah daftar konsekuensinya baik yang positif maupun yang negatif.
KASUS 1
Ny. Lilia usia 19 tahun, hamil pertama dan merasa hamil 32 minggu. Ia tinggal di desa yang mempunyai puskesmas dan dukun bayi. Alat transportasi yang langsung menuju desa tersebut belum tersedia. Ny. Lilia berencana melahirkan di puskesmas tetapi hanya punya uang Rp.100.000,-, suami dan keluarga juga ingin proses persalinan lancer dan dilakukan di puskesmas dan yang mendampingi kelak adalah suami Ny.Lilia. Ibu belum menyiapkan kendaraan bila nanti melahirkan.
Peran bidan dalam upaya membantu mengambil keputusan yang baik, berdasarkan keluhan klien.
Melihat kasus di atas dalam pengambilan keputusan,
a.       Langkah pertama yang bisa kita lakukan
Identifikasi kondisi yang dihadapi klien. dari kasus di atas kita bisa identifikasi :
1)     Usia 19 tahun, hamil anak ke-1, usia kehamilan 32 minggu;
2)      Social ekonomi menengah ke bawah;
3)     Ada upaya menyiapkan dana tapi sedikit;
4)     Belum ada rencana menyiapkan kendaraan.
b.      Langkah kedua
Menyusun daftar kehendak/pilihan keputusan :
1)     Ingin melahirkan dengna lancar dan selamat;
2)     Kemungkinan persalinan :
a)     Melahirkan dibantu dukun;
b)     Melahirkan di puskesmas atau;
c)      Melahirkan di rumah sakit kabupaten.
c.       Langkah ketiga
Buat daftar konsekuensi baik yang positif maupun yang negatif :
1)     Melahirkan dibantu dukun beranak
a)     Konsekuensi positif : murah, tidak perlu menyiapkan transportasi.
b)     Konsekuensi negative : bila terjadi komplikasi sulit diatasi karena primigravida usia 19 tahun.
2)     Melahirkan di puskesmas
a)     Konsekuensi positif : lebih murah dibandingkan di RS lokasi tidak jauh, ditunggu banyak sanak keluarga, bidan tahu perkembangan sejak awal.
b)     Konsekuensi negative : tidak baik bagi ibu risiko tinggi, bila terjadi komplikasi butuh rujukan.
3)     Melahirkan di rumah sakit kabupaten
a)     Konsekuensi positif : peralatan kesehatan lebih lengkap, bila terjadi komplikasi, dapat diatasi, donor darah lebih mudah diperoleh.
b)     Konsekuensi negative : lokasi jauh dan transportasi sulit, biaya mahal, terbatas sanak saudara yang menemani kecuali suami, belum tebiasa dokter laki-laki.
B.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
1.      Fisik.
Didasarkan pada rasa yang dialami tubuh, seperti rasa sakit, tidak nyaman, atau kenikmatan.
2.      Emosional
Sikap subjektivitas akan mempengaruhi keputusan yang diambil. Sehingga orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjektif.
3.      Rasional
Didasarkan pada pengetahuan, dan dilakukan oleh orang-orang terpelajar dan intelektual.
4.      Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakannya.
5.      Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan social yang ada. Hubungan antar satu orang ke orang lain dapat mempengaruhi tindakan individual.
6.      Structural
Didasarkan pada lingkup social, ekonomi dan politik.
C.      Tipe atau Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan
1.      Pengambilan keputusan untuk tidak berbuat apa-apa karena ketidak sanggupan atau merasa tidak sanggup.
2.      Pengambilan keputusan intuitif, sifatnya segera, langsung diputuskan, karena keputusan tersebut dirasakan paling tepat.
3.      Pengambilan keputusan yang terpaksa, karena segera dilaksanakan.
4.      Pengambilan keputusan reaktif. Sering kali dilakukan dalam situasi marah dan tergesa-gesa.
5.      Pengambilan keputusan yang ditangguhkan, dialihkan pada orang lain yang bertanggung jawab.
6.      Pengambilan keputusan secara berhati-hati, dipikirkan baik-baik, mempertimbangkan berbagai pilihan.
D.     Pemberian Informasi Efektif dalam Membantu Mengambil Keputusan
Pemberian informasi ini dilakukan setelahmendengarkan dengan aktif masalah klien dan pertanyaan klien tentang informasi.
Pemberian informasi efektif, bila :
1.      Informasi yang diberikan spesifik, dapat membantu klien dalam membuat keputusan.
2.      Informasi disesuaikan dengan situasi klien, dan mudah dimengerti.
3.      Diberikan dengan memperhatikan hal-hal berikut :
a.       Singkat, dan tepat;
b.      Menggunakan bahasa sederhana;
c.       Gunakan alat bantu visual sewaktu menjelaskan;
d.      Beri kesempatan klien bertanya dan minta klien mengulang hal-hal penting yang perlu diingat.
E.      Saat-Saat Sulit dalam KIP/K
1.      Diam
Dalam proses konseling keadaan “diam” (tidak bersuara) mempunyai banyak makna, antara lain :
a.       Penolakan atau kebingungan klien;
b.      Klien dan konselor telah mencapai akhir suatu ide dan semata-mata ragu mengatakan apa selanjutnya;
c.       Kebingungan karena kecemasan atau kebencian;
d.      Klien mengalami sakit dan tidak siap untuk bicara;
e.       Klien mengarapkan sesuatu dari konselor;
f.        Klien sedang memikirkan apa yang dikatakan;
g.       Klien baru menyadari ucapannya dan merupakan ekspresi emosional sebelumnya.
Konselor sebaiknya memahami hal-hal berikut :
a.       Apabila klien tidak mau berbicara selama beberapa waktu. Hal ini biasanya terjadi pada klien-klien yang merasa cemas atau marah.
b.      Apabila terjadi pada awal pertemuan, setelah beberapa saat sebaiknya konselor memperhatikan hal ini dengan mengatakan misalnya : “saya mengerti hal ini sulit untuk dibicarakan. Biasanya pada pertemuan pertama klien-klien saya juga merasa begitu. Apakah ibu merasa cemas?”.
c.       Apabila klien diam karena marah, sebagai konselor anda dapat berkata : “Bagaimana perasaan ibu setelah berada disini sekaranga ?”. Pernyataan ini harus diikuti dengan suasana hening selama beberapa saat, pada saat ini konselor memandang klien dan memperhatikan sikap tubuh yang menunjukkan perhatian.
d.      Apabila terjadi pada tengah pertemuan. Lebih baik menunggu beberapa saat, memberikan kesempatan kepada klien untuk mengekspresikan perasaan atau pikirannya, meskipun konselor merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.
e.       Apabila klien diam karena sedang berfikir. Konselor ini tidak perlu berusaha memecahkan kesunyian, juga tidak perlu menunjukkan sikap tidak menerima.
2.      Klien menangis
Reaksi konselor adalah berusaha menenangkan klien dengan menyentuh badan (menepuk-nepuk bahu atau memegang tangan klien) secara hati-hati.
3.      Konselor meyakini bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah klien
a.       Kondisi ini biasanya terjadi karena konselor tidak dapat memecahkan atau membantu menyelesaikan masalah seperti yang diharapkan klien.
b.      Misalnya seorang remaja putrid ingin melakukan aborsi, sementara konselor tidak mungkin memenuhi permintaan tersebut. Salah satu langkah yang dapat dilakukan terhadap klien yang mendesak ingin dibantu konselor dalam memecahkan masalahnya adalah dengan mengatakan kepada klien bahwa meskipun konselor tidak dapat mengubah keadaan tetapi konselor akan selalu menyediakan waktu untuk klien, membantu klien menghadapi saat-saat sulit.
4.      Konselor melakukan kesalahan
Hal utama yang terpenting untuk menciptakan hubungan baik dengan klien adalah bersikap jujur. Menghargai dan mempercayai klien dapat ditunjukkan dengna cara mengakui bahwa konselor telah melakukan kesalahan. Minta maaflah apabila salah/keliru.
5.      Konselor tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien
Hal ini merupakan kecemasan yang biasa diutarakan konselor. Sudah sepantasnya mengatakan bahwa konselor tidak dapat menjawab pertanyaan klien, tetapi akan berusaha mencari informasi tersebut untuk klien.
6.      Klien menolak bantuan konselor
Kalau klien sama sekali tidakmau bicara, tekankan pada hal-hal positif, paling tidak ia sudah dating dan berkenalan dengan konselor, mungkin ia mau mempertimbangkan kembali. Sarankan untuk melakukan pertemuan lanjutan.
7.      Klien merasa tidak nyaman dengan jenis kelamin konselor
Kesulitan ini diucapkan klien dengan mengatakan : “Saya canggung membicarakan hal ini dengan wanita”. “Saya mengharap berhadapan dengna laki-laki”. Dalam situasi seperti ini sebaiknya konselor mengemukakan hal ini dengan mengatakan : “Orang kadang-kadang awalnyamerasa lebih nyaman berbicara dengan seseorang yang sama jenis kelaminnya, menurut pengalaman saya semakin lama hal itu semakin tidak penting apabila kita sudah semakin mengenal teman bicara kita. Bagaimana kalau kita coba lanjutkan dan lihat bagaimana nantinya.!”.
8.      Waktu yang dimiliki konselor terbatas
Sabaiknya sejak awal pertemuan klien mengetahui berapa lama waktu konselor yang tersedia untuk dia. Karena itu konselor sebaiknya memberikan informasi tersebut beberapa saat sebelum pertemuan, meminta maaf, menjelaskan sebab keterbatasan waktunya, dan menunjukkan bahwa konselor mengharapkan bertemu klien pada pertemuan selanjutnya.
9.      Konselor tidak menciptakan hubungan yang baik
Kadang-kadang hubungan yang baik dengan klien sulit terjadi. Hal ini bukan berarti konseling harus diakhiri. Akan lebih konselor minta pendapat kepada teman sesame petugas di kliniknya untuk mengamati pertemuan dan melihat dimana letak kesulitannya, apakah ada sikap klien yang membuat konselor merasa ditolak klien.
10.  Konselor dan klien sudah saling kenal
Konselor dapat melayani seperti pada umumnya, tetapi perlu ditekankan bahwa kerahasiaan akan tetap terjaga, dan konselor akan bersikap sedikit berbeda dengan sikap diluar konseling terhadap klien sebagai temannya.
11.  Klien berbicara terus dan yang dibicarakan tidak sesuai dengan topic pembicaraan.
Situasi ini kebalikan dari situasi yang menunjukkan klien tidak mau bicara. Apabila klien terus menerus mengulang pembicaraan, setelah beberapa saat perlu dipotong pembicaraan.
12.  Klien bertanya tentang hal-hal pribadi konselor
Apabila ada pertanyaan-pertanyaan pribadi konselor lebih baik kalau konselor menyatakan bahwa konselor bercerita tentang dirinya tidak akan membantu klien, oleh karena itu lebih baik tidak bercerita.
13.  Konselor merasa dipermalukan dengan suatu topik pembicaraan
Sebaiknya konselor jujur kepada klien, terutama bila konselor bereaksi secara emosional kepada klien, karena itu klien akan mengamati itu.
14.  Keadaan kritis
Komunikasikan dengan tegas tapi sopan keadaan darurat kepada keluarga. Berikan penjelasan dengan singkat tapi jelas langkah-langkah yang harus dilakukan bersama untuk mengatasi keadaan.
F.      Kesulitan Saat Konseling
1.      Berusaha terlalu banyak dan terlalu dini;
2.      Lebih banyak mengajar dari pada membina hubungan;
3.      Penerimaan yang berlebihan;
4.      Menampilkan masalah konseling pada orang yang tidak berpengalaman;
5.      Kecenderungan untuk menampilkan kepribadian konseling;
6.      Merenungkan setelah sesi yang sulit.


SUMBER (REFERENSI)
Tyastuti, dkk. 2008. Komunikasi dan Konseling Dalam Pelayanan Kebidanan. Yogyakarta : Fitramaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar