I.
STRATEGI
MEMBANTU KLIEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A. Strategi
Membatu Klien dalam Pengambilan Keputusan
Dalam konseling pengambilan keputusan mutlak ada ditangan klien,
sedangkan bidan membantu agar keputusan yang diambil klien tersebt tepat.
Ada empat strategi yang dapat membantu klien mengambil
keputusannya.
1. Membantu
klien meninjau kemungkinan pilihannya. Beri kesempatan klien untuk melihat lagi beberapa alternative
pilihannya, agar tidak menyesal atau kecewa terhadap pihannya.
2. Membantu
klien dalam mempertimbangkan keputusan pilihan, dengan melihat kembali
keuntungan atau konsekuensi positif dan kerugiannya atau konsekuensi negative.
3. Membantu
klien mengevaluasi pilihan. Setelah klien menetapkan pilihan, bantu klien untuk
mencermati pilihannya.
4. Membantu klien
menyusun rencana kerja, untuk menyelesaikan masalahnya.
Langkah-langkah
dalam membuat keputusan yang baik antara lain 3 K :
1. Langkah
pertama
Identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien.
2. Langkah
kedua
Susunlah daftar kehendak atau pilihan keputusan.
3. Langkah
ketiga
Untuk
setiap pilihan, buatlah daftar konsekuensinya baik yang positif maupun yang
negatif.
KASUS 1
Ny. Lilia
usia 19 tahun, hamil pertama dan merasa hamil 32 minggu. Ia tinggal di desa
yang mempunyai puskesmas dan dukun bayi. Alat transportasi yang langsung menuju
desa tersebut belum tersedia. Ny. Lilia berencana melahirkan di puskesmas
tetapi hanya punya uang Rp.100.000,-, suami dan keluarga juga ingin proses
persalinan lancer dan dilakukan di puskesmas dan yang mendampingi kelak adalah
suami Ny.Lilia. Ibu belum menyiapkan kendaraan bila nanti melahirkan.
Peran bidan
dalam upaya membantu mengambil keputusan yang baik, berdasarkan keluhan klien.
Melihat
kasus di atas dalam pengambilan keputusan,
a. Langkah
pertama yang bisa kita lakukan
Identifikasi kondisi yang dihadapi klien. dari kasus di atas kita
bisa identifikasi :
1) Usia 19
tahun, hamil anak ke-1, usia kehamilan 32 minggu;
2) Social ekonomi menengah ke bawah;
3) Ada upaya
menyiapkan dana tapi sedikit;
4) Belum ada
rencana menyiapkan kendaraan.
b. Langkah
kedua
Menyusun daftar kehendak/pilihan keputusan :
1) Ingin
melahirkan dengna lancar dan selamat;
2) Kemungkinan
persalinan :
a) Melahirkan dibantu
dukun;
b) Melahirkan
di puskesmas atau;
c) Melahirkan
di rumah sakit kabupaten.
c. Langkah
ketiga
Buat daftar konsekuensi baik yang positif maupun yang negatif :
1) Melahirkan
dibantu dukun beranak
a) Konsekuensi
positif : murah, tidak perlu menyiapkan transportasi.
b) Konsekuensi
negative : bila terjadi komplikasi sulit diatasi karena primigravida usia 19
tahun.
2) Melahirkan
di puskesmas
a) Konsekuensi
positif : lebih murah dibandingkan di RS lokasi tidak jauh, ditunggu banyak
sanak keluarga, bidan tahu perkembangan sejak awal.
b) Konsekuensi
negative : tidak baik bagi ibu risiko tinggi, bila terjadi komplikasi butuh
rujukan.
3) Melahirkan
di rumah sakit kabupaten
a) Konsekuensi
positif : peralatan kesehatan lebih lengkap, bila terjadi komplikasi, dapat
diatasi, donor darah lebih mudah diperoleh.
b) Konsekuensi
negative : lokasi jauh dan transportasi sulit, biaya mahal, terbatas sanak
saudara yang menemani kecuali suami, belum tebiasa dokter laki-laki.
B. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
1. Fisik.
Didasarkan pada rasa yang dialami tubuh, seperti rasa sakit, tidak
nyaman, atau kenikmatan.
2. Emosional
Sikap subjektivitas akan mempengaruhi keputusan yang diambil.
Sehingga orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjektif.
3. Rasional
Didasarkan pada pengetahuan, dan dilakukan oleh orang-orang
terpelajar dan intelektual.
4. Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan
melaksanakannya.
5. Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan social yang ada. Hubungan antar
satu orang ke orang lain dapat mempengaruhi tindakan individual.
6. Structural
Didasarkan pada lingkup social, ekonomi dan politik.
C. Tipe atau
Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan
1. Pengambilan
keputusan untuk tidak berbuat apa-apa karena ketidak sanggupan atau merasa
tidak sanggup.
2. Pengambilan
keputusan intuitif, sifatnya segera, langsung diputuskan, karena keputusan
tersebut dirasakan paling tepat.
3. Pengambilan
keputusan yang terpaksa, karena segera dilaksanakan.
4. Pengambilan
keputusan reaktif. Sering kali dilakukan dalam situasi marah dan tergesa-gesa.
5. Pengambilan
keputusan yang ditangguhkan, dialihkan pada orang lain yang bertanggung jawab.
6. Pengambilan
keputusan secara berhati-hati, dipikirkan baik-baik, mempertimbangkan berbagai
pilihan.
D. Pemberian
Informasi Efektif dalam Membantu Mengambil Keputusan
Pemberian informasi ini dilakukan setelahmendengarkan dengan aktif
masalah klien dan pertanyaan klien tentang informasi.
Pemberian informasi efektif, bila :
1. Informasi
yang diberikan spesifik, dapat membantu klien dalam membuat keputusan.
2. Informasi
disesuaikan dengan situasi klien, dan mudah dimengerti.
3. Diberikan
dengan memperhatikan hal-hal berikut :
a. Singkat, dan
tepat;
b. Menggunakan
bahasa sederhana;
c. Gunakan alat
bantu visual sewaktu menjelaskan;
d. Beri
kesempatan klien bertanya dan minta klien mengulang hal-hal penting yang perlu
diingat.
E. Saat-Saat
Sulit dalam KIP/K
1. Diam
Dalam proses konseling keadaan “diam” (tidak bersuara) mempunyai
banyak makna, antara lain :
a. Penolakan
atau kebingungan klien;
b. Klien dan
konselor telah mencapai akhir suatu ide dan semata-mata ragu mengatakan apa
selanjutnya;
c. Kebingungan
karena kecemasan atau kebencian;
d. Klien
mengalami sakit dan tidak siap untuk bicara;
e. Klien
mengarapkan sesuatu dari konselor;
f.
Klien sedang memikirkan apa yang dikatakan;
g. Klien baru
menyadari ucapannya dan merupakan ekspresi emosional sebelumnya.
Konselor
sebaiknya memahami hal-hal berikut :
a. Apabila
klien tidak mau berbicara selama beberapa waktu. Hal ini biasanya terjadi pada
klien-klien yang merasa cemas atau marah.
b. Apabila
terjadi pada awal pertemuan, setelah beberapa saat sebaiknya konselor
memperhatikan hal ini dengan mengatakan misalnya : “saya mengerti hal ini sulit
untuk dibicarakan. Biasanya pada pertemuan pertama klien-klien saya juga merasa
begitu. Apakah ibu merasa cemas?”.
c. Apabila
klien diam karena marah, sebagai konselor anda dapat berkata : “Bagaimana
perasaan ibu setelah berada disini sekaranga ?”. Pernyataan ini harus diikuti
dengan suasana hening selama beberapa saat, pada saat ini konselor memandang
klien dan memperhatikan sikap tubuh yang menunjukkan perhatian.
d. Apabila
terjadi pada tengah pertemuan. Lebih baik menunggu beberapa saat, memberikan
kesempatan kepada klien untuk mengekspresikan perasaan atau pikirannya,
meskipun konselor merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.
e. Apabila
klien diam karena sedang berfikir. Konselor ini tidak perlu berusaha memecahkan
kesunyian, juga tidak perlu menunjukkan sikap tidak menerima.
2. Klien
menangis
Reaksi konselor adalah berusaha menenangkan klien dengan menyentuh
badan (menepuk-nepuk bahu atau memegang tangan klien) secara hati-hati.
3. Konselor
meyakini bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah klien
a. Kondisi ini
biasanya terjadi karena konselor tidak dapat memecahkan atau membantu
menyelesaikan masalah seperti yang diharapkan klien.
b. Misalnya
seorang remaja putrid ingin melakukan aborsi, sementara konselor tidak mungkin
memenuhi permintaan tersebut. Salah satu langkah yang dapat dilakukan terhadap
klien yang mendesak ingin dibantu konselor dalam memecahkan masalahnya adalah
dengan mengatakan kepada klien bahwa meskipun konselor tidak dapat mengubah
keadaan tetapi konselor akan selalu menyediakan waktu untuk klien, membantu
klien menghadapi saat-saat sulit.
4. Konselor
melakukan kesalahan
Hal utama yang terpenting untuk menciptakan hubungan baik dengan
klien adalah bersikap jujur. Menghargai dan mempercayai klien dapat ditunjukkan
dengna cara mengakui bahwa konselor telah melakukan kesalahan. Minta maaflah
apabila salah/keliru.
5. Konselor
tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien
Hal ini merupakan kecemasan yang biasa diutarakan konselor. Sudah
sepantasnya mengatakan bahwa konselor tidak dapat menjawab pertanyaan klien,
tetapi akan berusaha mencari informasi tersebut untuk klien.
6. Klien
menolak bantuan konselor
Kalau klien sama sekali tidakmau bicara, tekankan pada hal-hal
positif, paling tidak ia sudah dating dan berkenalan dengan konselor, mungkin
ia mau mempertimbangkan kembali. Sarankan untuk melakukan pertemuan lanjutan.
7. Klien merasa
tidak nyaman dengan jenis kelamin konselor
Kesulitan ini diucapkan klien dengan mengatakan : “Saya canggung
membicarakan hal ini dengan wanita”. “Saya mengharap berhadapan dengna
laki-laki”. Dalam situasi seperti ini sebaiknya konselor mengemukakan hal ini
dengan mengatakan : “Orang kadang-kadang awalnyamerasa lebih nyaman berbicara
dengan seseorang yang sama jenis kelaminnya, menurut pengalaman saya semakin
lama hal itu semakin tidak penting apabila kita sudah semakin mengenal teman
bicara kita. Bagaimana kalau kita coba lanjutkan dan lihat bagaimana
nantinya.!”.
8. Waktu yang
dimiliki konselor terbatas
Sabaiknya sejak awal pertemuan klien mengetahui berapa lama waktu
konselor yang tersedia untuk dia. Karena itu konselor sebaiknya memberikan
informasi tersebut beberapa saat sebelum pertemuan, meminta maaf, menjelaskan
sebab keterbatasan waktunya, dan menunjukkan bahwa konselor mengharapkan
bertemu klien pada pertemuan selanjutnya.
9. Konselor
tidak menciptakan hubungan yang baik
Kadang-kadang hubungan yang baik dengan klien sulit terjadi. Hal
ini bukan berarti konseling harus diakhiri. Akan lebih konselor minta pendapat
kepada teman sesame petugas di kliniknya untuk mengamati pertemuan dan melihat
dimana letak kesulitannya, apakah ada sikap klien yang membuat konselor merasa
ditolak klien.
10. Konselor dan
klien sudah saling kenal
Konselor dapat melayani seperti pada umumnya, tetapi perlu
ditekankan bahwa kerahasiaan akan tetap terjaga, dan konselor akan bersikap
sedikit berbeda dengan sikap diluar konseling terhadap klien sebagai temannya.
11. Klien
berbicara terus dan yang dibicarakan tidak sesuai dengan topic pembicaraan.
Situasi ini kebalikan dari situasi yang menunjukkan klien tidak
mau bicara. Apabila klien terus menerus mengulang pembicaraan, setelah beberapa
saat perlu dipotong pembicaraan.
12. Klien
bertanya tentang hal-hal pribadi konselor
Apabila ada pertanyaan-pertanyaan pribadi konselor lebih baik
kalau konselor menyatakan bahwa konselor bercerita tentang dirinya tidak akan
membantu klien, oleh karena itu lebih baik tidak bercerita.
13. Konselor
merasa dipermalukan dengan suatu topik pembicaraan
Sebaiknya konselor jujur kepada klien, terutama bila konselor
bereaksi secara emosional kepada klien, karena itu klien akan mengamati itu.
14. Keadaan
kritis
Komunikasikan dengan tegas tapi sopan keadaan darurat kepada
keluarga. Berikan penjelasan dengan singkat tapi jelas langkah-langkah yang
harus dilakukan bersama untuk mengatasi keadaan.
F. Kesulitan
Saat Konseling
1. Berusaha
terlalu banyak dan terlalu dini;
2. Lebih banyak
mengajar dari pada membina hubungan;
3. Penerimaan
yang berlebihan;
4. Menampilkan
masalah konseling pada orang yang tidak berpengalaman;
5. Kecenderungan
untuk menampilkan kepribadian konseling;
6. Merenungkan
setelah sesi yang sulit.
SUMBER (REFERENSI)
Tyastuti,
dkk. 2008. Komunikasi dan Konseling Dalam
Pelayanan Kebidanan. Yogyakarta : Fitramaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar