I.
KETERAMPILAN
OBSERVASI
a. Keterampilan
observasional
Melatih kepekaan dalam observasi adalah keterampilan dasar dalam
membina komunikasi efektif. Yang kita perlu observasi adalah tingkah laku
verbal, non verbal dan kesenjangan antara tingkah laku verbal dan non dan non verbal.
Bidan perlu mengamati tingkah laku verbal dan non verbal untuk
mengidentifikasi pesan-pesan yang tidak sinkron/tidak sejalan dan campur aduk.
Seorang bidan yang tajam pengamatannya akan mengetahui bahwa ada beberapa
konflik atau ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal, antara apa yang
diucapkan dan dikerjakan.
b. Tingkah laku
verbal dan non verbal
1) Tingkah
laku/komunikasi non verbal
Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas
dalam bentuk non verbal, tanpa kata-kata. Komunikasi non verbal dapat berbentuk
bahasa tubuh, tanda, tindakan/perbuatan atau objek.
a) Bahasa tubuh
Bahasa tubuh ini meliputi :
-
Ekspresi wajah : merupakan cerminan suasana emosi seseorang apakah
ia sedang bahagia tau bersedih, wajah memberikan sinyal yan gnyata bagi orang
yang menatap dan mengerti kejiwaan dan psikologi.
-
Kontak mata : dengan melakukan kontak mata selama berinteraksi
atau Tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya
dengna kemamuan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan apa yang
dibicarakan.
-
Sentuhan : menimbulkan perasaan dekat atau akrab, menimbulkan juga
peasaan bahwa yang disentuh dihargai.
-
Postur tubuh dan gaya berjalan : merefleksikan emosi, konsep diri
dan tingkat kesehatannya. Berjalan tergesa-gesa memperlihatkan bahwa ia sedang
mengejar atau tidak mau diganggu. Posisi duduk lebih baik dari pada berjalan,
berhadapan lebih baik dibandingkan bersisihan dalam berkomunikasi, saat
mendengarkan tubuh lebih condong ke lawan bicara lebih memberikan kesan bahwa
pembicaraan didengarkan dan penting.
-
Sound (suara) : suara rintihan, desahan saat menarik nafas panjang
tangisan salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang dapat juga
dijadikan komunikasi.
-
Gerak isyarat : dapat mempertegas pembicaraan dalam komunikasi.
b) Tanda
Tanda dalam komunikasi non verbal menggantikan kata-kata misalnya
bendera, rambu-rambu lalu lintas dan sebagainya.
c) Tindakan
atau perbuatan
Tindakan atau perbuatan secara khusus tidak menggantikan kata-kata
tetapi mengandung makna, misalnya menggebrak meja, menutup pintu keras-keras
dan lain-lain. Tidnakan tersebut bias bermakna marah.
d) Objek
Objek juga secara khusus tidak mengganti kata tetapi mempunyai
makna, misalnya pakaian, aksesoris dandan, dan lain-lain. Dari pakaian atau
aksesoris dandanan maka bias kita ketahui social ekonomi atau gaya orang
tersebut.
e) Warna
Kita sering menggunakan warna untuk menunjukkan suasa emosional,
cita rasa, keyakinan agama, politik dan lain-lain.
f) Fungsi komunikasi
non verbal
-
Melengkapi komunikasi verbal
-
Menekankan komunikasi verbal
-
Membesar-besarkan komunikasi non verbal
-
Melawan komunikasi verbal
-
Meniadakan komunikasi non verbal
2) Komunikasi
verbal
Adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun
tertulis. Melalui kata-kata, perasaan, emosi, pemikiran, gagasan dan lain-lain
bias diungkapkan.
Aspek-aspek komunikasi verbal :
a) Vocabulary (kecepatan)
Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan
kata-kata yang tidak dimengerti. Olah kata menjaid penting dalam berkomunikasi
verbal ini. Pergaulan, wawasan dan membaca sangat membantu seseorang dalam
memperbanyak vocabulary tersebut.
b) Racing (kecepatan)
Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara
dapat diatur dengan baik. Kecepatan dalam berkomunikasi yang baik adalah tidak
terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat.
c) Intonasi
suara
Intonasi atau penekanan suara pada saat berkomunikasi
akanmempengaruhi arti pesan secara dramatic sehingga pesan akan menjadi lain
artinya bila iducapkan dengan intonasi suara yang berbeda.
d) Singkat dan
jelas
Komunikasi yang datar dan kurang berdaya humor menimbulkan kesan
kaku pada seseorang saat berkomunikasi. Komunikasi yang diselingi humor dapat
meningkatkan kehidupan yang bahagia. Para ahli member catatan bahwa komunikasi
dapat merupakan terapi karena dapat menimbulkan tawa bagi pendengarnya.
e) Timing (waktu yang tepat)
Waktu dan kondisi atau hal yang kritis perlu diperhatikan karena
berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi. Dengan
menyesuaikan waktu yang tepat saat menyampaikan informasi atau berkomunikasi
orang yan gmenerima informasi akan lebih mendengarkan atau memperhatikan apa
yang disampaikan.
c. Pengamatan
dan penafsiran atau interpretasi
Pengamatan objektif adalah berbagai tingkah laku yang bisa kita
lihat dan kita dengar. Penafsiran atau interpretasia dalah kesan terhadap apa
yang kita lihat dan kita dengar. Interpretasi dapat diartikan sebagai suatu
usaha konselor untuk memberitahukan suatu arti kepada konseli.
Konselor membantu klien dengan memberitahu dugaan tentang hubungan
atau makna tingkah laku untuk dipertimbangkan oleh klien. Dengan demikian klien
punya kebebasan untuk menyelesaikan masalahnya. Data yang diinterpretasikan klien
dalam konseling digolongkan menjadi dua kategori yang masing-masing mempunyai
interpretasi yang berbeda. Kategori pertama adalah data yang dijabarkan dair
data objektif sedangkan kategori kedua adalah data dari hasil selama proses
konseling.
Tahap-tahap interpretasi meliputi :
1) Refleksi
perasaan, yaitu konselor tidak pergi jauh dari apa yang dikatakan klien, dengan
refleksi perasaan apa yang ada di hati klien didengar oleh konselor.
2) Klarifikasi
yaitu menjelaskan konselor terhadap apa yang tersirat dalam perkataan klien.
3) Refleksi
yaitu penilaian konselor terhadap apa yang diungkapkan klien.
4) Konfrontasi
yaitu konselor membawa kepada perhatian cita-cita dan perasaan klien yang
tersirat tetapi tidak disadari.
5) Interpretasi
yaitu konselor memperkenalkan konsep-konsep, hubungan dan pertalian baru yang
berakar pada pengalaman klien.
Yang bisa
kita amati dari pembicaraan/kata-kata klien adalah kata-kata kunci yang harus
bias kita tangkap, penjelasan-penjelasan, kapan beralih topik. Kesesuaian
antara tingkah laku verbal dan non verbal. Yang perlu diamati oleh bidan adalah
kesesuaian antara pertanyaan dan jawaban, apakah sinkron atau tidak, perlu juga
mengamat kkesesuaian antara apa yang diucapkan dan dikerjakan. Dengan
pengamatan mengenai hal-hal tersebut kita bias tahu kondisi kejiwaan dan
kejujuran seorang klien sehingga teknik komunikasi bias lebih mendalam.
SUMBER (REFERENSI)
1. Tyastuti,
dkk. 2008. Komunikasi dan Konseling Dalam
Pelayanan Kebidanan. Yogyakarta : Fitramaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar