Rabu, 08 Juni 2016

KETERAMPILAN OBSERVASI

I.                   KETERAMPILAN OBSERVASI
a.       Keterampilan observasional
Melatih kepekaan dalam observasi adalah keterampilan dasar dalam membina komunikasi efektif. Yang kita perlu observasi adalah tingkah laku verbal, non verbal dan kesenjangan antara tingkah laku verbal dan non  dan non verbal.
Bidan perlu mengamati tingkah laku verbal dan non verbal untuk mengidentifikasi pesan-pesan yang tidak sinkron/tidak sejalan dan campur aduk. Seorang bidan yang tajam pengamatannya akan mengetahui bahwa ada beberapa konflik atau ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal, antara apa yang diucapkan dan dikerjakan.
b.      Tingkah laku verbal dan non verbal
1)     Tingkah laku/komunikasi non verbal
Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk non verbal, tanpa kata-kata. Komunikasi non verbal dapat berbentuk bahasa tubuh, tanda, tindakan/perbuatan atau objek.
a)     Bahasa tubuh
Bahasa tubuh ini meliputi :
-          Ekspresi wajah : merupakan cerminan suasana emosi seseorang apakah ia sedang bahagia tau bersedih, wajah memberikan sinyal yan gnyata bagi orang yang menatap dan mengerti kejiwaan dan psikologi.
-          Kontak mata : dengan melakukan kontak mata selama berinteraksi atau Tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengna kemamuan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan apa yang dibicarakan.
-          Sentuhan : menimbulkan perasaan dekat atau akrab, menimbulkan juga peasaan bahwa yang disentuh dihargai.
-          Postur tubuh dan gaya berjalan : merefleksikan emosi, konsep diri dan tingkat kesehatannya. Berjalan tergesa-gesa memperlihatkan bahwa ia sedang mengejar atau tidak mau diganggu. Posisi duduk lebih baik dari pada berjalan, berhadapan lebih baik dibandingkan bersisihan dalam berkomunikasi, saat mendengarkan tubuh lebih condong ke lawan bicara lebih memberikan kesan bahwa pembicaraan didengarkan dan penting.
-          Sound (suara) : suara rintihan, desahan saat menarik nafas panjang tangisan salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang dapat juga dijadikan komunikasi.
-          Gerak isyarat : dapat mempertegas pembicaraan dalam komunikasi.
b)     Tanda
Tanda dalam komunikasi non verbal menggantikan kata-kata misalnya bendera, rambu-rambu lalu lintas dan sebagainya.
c)      Tindakan atau perbuatan
Tindakan atau perbuatan secara khusus tidak menggantikan kata-kata tetapi mengandung makna, misalnya menggebrak meja, menutup pintu keras-keras dan lain-lain. Tidnakan tersebut bias bermakna marah.
d)     Objek
Objek juga secara khusus tidak mengganti kata tetapi mempunyai makna, misalnya pakaian, aksesoris dandan, dan lain-lain. Dari pakaian atau aksesoris dandanan maka bias kita ketahui social ekonomi atau gaya orang tersebut.
e)     Warna
Kita sering menggunakan warna untuk menunjukkan suasa emosional, cita rasa, keyakinan agama, politik dan lain-lain.

f)       Fungsi komunikasi non verbal
-          Melengkapi komunikasi verbal
-          Menekankan komunikasi verbal
-          Membesar-besarkan komunikasi non verbal
-          Melawan komunikasi verbal
-          Meniadakan komunikasi non verbal
2)     Komunikasi verbal
Adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tertulis. Melalui kata-kata, perasaan, emosi, pemikiran, gagasan dan lain-lain bias diungkapkan.
Aspek-aspek komunikasi verbal :
a)     Vocabulary (kecepatan)
Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti. Olah kata menjaid penting dalam berkomunikasi verbal ini. Pergaulan, wawasan dan membaca sangat membantu seseorang dalam memperbanyak vocabulary tersebut.
b)     Racing (kecepatan)
Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik. Kecepatan dalam berkomunikasi yang baik adalah tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat.
c)      Intonasi suara
Intonasi atau penekanan suara pada saat berkomunikasi akanmempengaruhi arti pesan secara dramatic sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila iducapkan dengan intonasi suara yang berbeda.
d)     Singkat dan jelas
Komunikasi yang datar dan kurang berdaya humor menimbulkan kesan kaku pada seseorang saat berkomunikasi. Komunikasi yang diselingi humor dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Para ahli member catatan bahwa komunikasi dapat merupakan terapi karena dapat menimbulkan tawa bagi pendengarnya.
e)     Timing (waktu yang tepat)
Waktu dan kondisi atau hal yang kritis perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi. Dengan menyesuaikan waktu yang tepat saat menyampaikan informasi atau berkomunikasi orang yan gmenerima informasi akan lebih mendengarkan atau memperhatikan apa yang disampaikan.
c.       Pengamatan dan penafsiran atau interpretasi
Pengamatan objektif adalah berbagai tingkah laku yang bisa kita lihat dan kita dengar. Penafsiran atau interpretasia dalah kesan terhadap apa yang kita lihat dan kita dengar. Interpretasi dapat diartikan sebagai suatu usaha konselor untuk memberitahukan suatu arti kepada konseli.
Konselor membantu klien dengan memberitahu dugaan tentang hubungan atau makna tingkah laku untuk dipertimbangkan oleh klien. Dengan demikian klien punya kebebasan untuk menyelesaikan masalahnya. Data yang diinterpretasikan klien dalam konseling digolongkan menjadi dua kategori yang masing-masing mempunyai interpretasi yang berbeda. Kategori pertama adalah data yang dijabarkan dair data objektif sedangkan kategori kedua adalah data dari hasil selama proses konseling.
Tahap-tahap interpretasi meliputi :
1)     Refleksi perasaan, yaitu konselor tidak pergi jauh dari apa yang dikatakan klien, dengan refleksi perasaan apa yang ada di hati klien didengar oleh konselor.
2)     Klarifikasi yaitu menjelaskan konselor terhadap apa yang tersirat dalam perkataan klien.
3)     Refleksi yaitu penilaian konselor terhadap apa yang diungkapkan klien.
4)     Konfrontasi yaitu konselor membawa kepada perhatian cita-cita dan perasaan klien yang tersirat tetapi tidak disadari.
5)     Interpretasi yaitu konselor memperkenalkan konsep-konsep, hubungan dan pertalian baru yang berakar pada pengalaman klien.
Yang bisa kita amati dari pembicaraan/kata-kata klien adalah kata-kata kunci yang harus bias kita tangkap, penjelasan-penjelasan, kapan beralih topik. Kesesuaian antara tingkah laku verbal dan non verbal. Yang perlu diamati oleh bidan adalah kesesuaian antara pertanyaan dan jawaban, apakah sinkron atau tidak, perlu juga mengamat kkesesuaian antara apa yang diucapkan dan dikerjakan. Dengan pengamatan mengenai hal-hal tersebut kita bias tahu kondisi kejiwaan dan kejujuran seorang klien sehingga teknik komunikasi bias lebih mendalam.

SUMBER (REFERENSI)

1.      Tyastuti, dkk. 2008. Komunikasi dan Konseling Dalam Pelayanan Kebidanan. Yogyakarta : Fitramaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar